Welcome To http://www.cerminan hati al-insan.blogspot.com/ Semoga Bermanfaat.

Kamis, 12 April 2012

Kharisma (Gezag) dalam Kehidupan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kewibawaan  atau gezag bertujuan untuk membawa anak ke arah kekedewasaan. Secara berangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya.
Syarat mutlak dalam pendidikan ialah adanya kewibawaan pada si pendidik. Tanpa kewibawaan itu, pendidikan tidak berhasil baik. Tetapi harus diingat, bahwa sianak kita didik bukan saja dengan hak, melainkan dengan kewajiban, membawa dirinya ke satu tingkatan untuk dapat berdiri sendiri, jadi anak menurut bukan karena diri si pendidik, melainkan karena norma-norma dan nilai-nilai dalam pribadi si pendidik.
Dalam makalah yang kami buat ini, akan kami jelaskan secara rinci mengenai definisi gezag, fungsi gezag, dan beda gezag dalam pendidikan, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
B.    RUMUSAN MASALAH
1.    Definisi Gezag
2.    Macam-Macam  Kewibawaan Dalam Kehidupan
3.    Fungsi Gezag
4.    Beda Gezag Dalam Kehidupan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    DEFINISI GEZAG
Gezag berasal dari kata zeggen yang berarti “ berkata “. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai atau kewibawaan/gezag terhadap orang lain.
Gezag atau kewibawaan itu ada pada orang dewasa, terutama pada orang tua. Dapat kita katakan bahwa kewibawaan yang ada pada orang tua ( ayah dan ibu ) itu adalah asli. Orang tua dapat langsung mendapat
tugas dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabut karena terikat oleh kewajiban. Hak dan kewajiban yang ada pada orang tua itu keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.
Gezag merupakan syarat yang harus ada pada pendidik dan karena pendidikan untuk membawa anak didik kepada kekedewasaan, maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan. Langeveld  menyatakan bahwa pendidikan yang sungguh-sungguh baru dapat diberikan setelah anak itu mengenal akan kewibawaan, kira-kira anak berumur tiga tahun.
Sebelum umur tiga tahun anak seperti diberi semacam paksaan atau dressuur, tetapi paksaan yang diberikan kepada anak yang masih sangat kecil itu ditujukan kepada kekedewasaan anak, maka paksaan yang diberikan kepada anak yang  masih kecil sekali itu disebut pendidikan pendahuluan, bukan dressuur.
Gezag dalam pendidikan merupakan pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap pengarug atau anjuran yang datang dari orang lain, jadi pengakuan dan penerimaan pengaruh atau anjuran itu adalah atas dasar keikhlasan, atas dasar kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan rasa terpaksa serta rasa takut akan sesuatu.
Gezag dikatakan sebagai syarat mutlak dalam pelaksanaan pendidikan karena gezag merupakan syarat yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, syarat yang tidak boleh tidak ada. Oleh karena apabila pengakuan dan penerimaan anjuran-anjuran dari pendidik itu tidak berdasarkan adanya kewibawaan dalam pendidikan, jadi anak menuruti anjuran-anjuran itu hanya berdasarkan rasa takut akan sesuatu, berdasarkan akan rasa terpaksa, sehingga akhirnya anak tidak menyadari akan makna dan pentingnya anjuran-anjuran itu, maka sulitlah baginya untuk dapat berdiri sendiri, untuk mencapai tingkat kedewasaan. Sebab berdiri sendiri berarti mampu untuk berbuat atas pilihannya sendiri, ditentukan sendiri, dan diputuskan sendiri.

B.    MACAM-MACAM  KEWIBAWAAN DALAM KEHIDUPAN
a.    Kewibawaan pemimpin/ kepala
Seperti kewibawaan pemimpin organisasi, baik oganisasi politik atau organisasi masa, kewibawaan kepala kantor atau kepala sekolah. Kewibawaan tersebut karena jabatan atau kekuasaan.
b.    Kewibawaan keistimewaan
Seperti kewibawaan seseorang mempunyai kelebihan atau keunggulan dibidang tertentu.
Di antara kelebihan yang dapat menimbulkan kewibawaan seseorang ialah:
•    Kelebihan dibidang ilmu pengetahuan, baik umum maupun agama,
•    Kelebihan di bidang pengalaman, baik pengalaman hidup maupun pekerjaan,
•    Kelebihan dibidang kepribadian, naik di bidang akhlak maupun sosial,
•    Kelebihan di bidang harta, baik harta tetap maupun harta berpindah,
•    Kelebihan di bidang keturunan yang mewarisi karisma leluhurnya.

Tingkat pengakuan terhadap kewibawaan ada dua tingkat, yaitu :
a.    Pengakuan kewibawaan yang pasif
Seperti anak yang mengikuti anjuran pada saat ada sipengajar. Anak memandang norma-norma yang disampaikan menyatu dengan yang menyampaikan. Norma-norma itu dianggap berlaku apabila pribadi yang menyampaikan ada dan berwibawa, sedangkan apabila pribadi yang menyampaikan itu tidak ada atau tidak berwibawa maka norma itu dianggap tidak berlaku lagi.
b.    Pengakuan kewibawaan yang aktif
Seperti anak mengikuti anjuran sipenganjur karena kesadaran, baik ada maupun tidak ada sipenganjur karena adanya kesadaran, anak memandang norma itu memang patut dan wajib dipatuhi dan ditaati. Seorang pendidik harus berusaha menimbulkan kewibawaan yang aktif pada diri anak, karena kewibawaan yang aktif inilah yang merupakan kewibawaan yang sebenarnya, sedang kewibawaan yang pasif adalah kewibawaan yang semu.
Sesudah ada pengakuan kewibawaan dari sianak terhadap pendidik, maka kewajiban si pendidik adalah menggunakan kewibawaan itu untuk membawa anak didik kearah cita-cita pendidikan.
Kewajiban selanjutnya bagi pendidik yang mempunyai wibawa adalah menjaga/ memelihara adalah pengakuan kewibawaan sianak didik terhadap pendidik tersebut
Adapun dalam menggunakan kewibawaan perlu memperhatikan hal-hal berikut :
•    Dalam menggunakan kewibawaan, hendaklah didasarkan atas perkembangan anak didik
•    Penerapan kewibawaan hendaknya didasarkan rasa cinta kasih sayang kepada anak didik
•    Hendaknya kewibawaan digunakan untuk kepentingan anak didik
•    Hendaknya kewibawaan digunakan dalam suasana pergaulan antara pendidik dan anak didik, karena dengan pergaulan maka proses pendidikan bisa berjalan lancar.
Macam-macam kewibawaan ditinjau dari daya yang mempengaruhi
1.    Kewibawaan lahir
Kewibawaan lahir adalah kewibawaan yang timbul karena kesan-kesan lahiriah seseorang, seperti : bentuk tubuh yang tinggi besar, pakaian lengkap dan rapi, tulisan yang bagus, suara yang keras dan jelas, akan menimbulkan kewibawaan lahir.
2.    Kewibawaan batin
Adalah kewibawaan yang didukung oleh keadaan batin seseorang seperti :
a.    Adanya rasa cinta
Kewibawaan itu dapat dimiliki oleh seseorang, apabila hidupnya penuh kecintaan dengan atau kepada orang lain.
b.    Adanya rasa demi kamu
Demi kamu atau you attitude yaitu sikap yang dapat dilukiskan sebagai suatu tindakan,  perintah atau anjuran bukan untuk kepentingan orang yang memerintah, tetapi untuk kepentingan orang yang diperintah, menganjurkan demi orang yang menerima anjuran, melarang juga demi orang yang dilarang.
c.    Adanya kelebihan batin
Seorang guru yang menguasai bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya, bisa berlaku adil dan obyektif, bijaksana, merupakan contoh-contoh yang dapat menimbulkan kewibawaan batin.
d.    Adanya ketaatan terhadap norma
Menunjukan bahwa dalam tingkah lakunya dia sebagai pendukung norma yang sungguh-sungguh, selalu menepati janji yang pernah dibuat, disiplin dalam hal-hal yang telah digariskan.
Kiat-kiat menjaga kewibawaan adalah :
a.    Bersedia memberi alasan
Pendidik harus siap dengan alasan yang mudah diterima anak, mengapa pendidik menghendaki anak didik supaya berlaku begini, mengapa pendidik melarang anak didik, mengapa pendidik memberi nasehat begitu, penjelasan hendaknya singkat dan mudah diterima anak dengan jelas, menggunakan bahasa yang sesuai dengan perkembangan anak.
b.    Bersikap you attitude
Pendidik selalu harus menunjukkan sikap demi kamu, sikap ini tidak perlu ditonjolkan, tetapi harus dengan jelas nampak kepada anak didik ini, melarang berbuat itu, semuanya demi anak didik sendiri bukan untuk kepentingan si pendidik.
c.    Bersikap sabar
Pendidik harus selalu bersikap sabar, memberi tenggang waktu kepada anak didik untuk mau menerima perintah dan nasihat yang diberikan oleh pendidik. Mungkin pendidik harus memberikan nasehatnya berkali-kali kepada seorang anak, pendidik dituntut kesabarannya sunggu-sungguh, tidak boleh lekas putus asa.
d.    Bersikap memberi kebebasan
Semakin bertambah umur anak didik, atau semakin dewasa, pendidik hendaknya semakin memberi kebebasan, memberi kesempatan kepada anak didik agar belajar berdiri sendiri, belajar bertanggung jawab, dan belajar mengambil keputusan, sehingga pada akhirnya anak tidak lagi memerlukan nasehat dalam kewibawaan, melainkan anak diberi kebebasan untuk mengikuti nasehat itu, atau tidak.

C.    FUNGSI GEZAG
1.    Mempengaruhi anak untuk menuju kekedewasaan
2.    Membantu anak menjadi orang yang kelak dapat dan sanggup memenuhi tugas hidupnya dengan berdiri sendiri
3.    Membawa anak kearah pertumbuhan yang kemudian dengan sendirinya mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya juga
4.    Anak akan mengerti bahasa untuk menerima petunjuk-petunjuk tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan oleh pendidik
5.    Membuat sianak mendapatkan nilai-nilai dan norma-norma hidup.
6.    Pendidik dapat menjalankan kewajibannya atas dasar cinta.
7.    Perputaran masyarakat menjadi baik
8.    Anak-anak akan berkembang jasmani dan rohaninya.
9.    Keluarga dapat terpelihara dan selamat

D.    BEDA GEZAG DALAM PENDIDIKAN
1.    Perbedaan antara kewibawaan orang tua dan kewibawaan guru atau pendidik-pendidik lainnya terhadap anak didik
a.    Kewibawaan orang tua
•    kewibawaan pendidikan
Ini berarti bahwa dengan kewibawaan itu orang tua bertujuan memelihara kesalamatan anak-anaknya agar mereka dapat hidup dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa.
•    kewibawaan keluarga
Orang tua merupakan kepala dari suatu keluarga, tiap-tiap keluarga merupakan masyarakat kecil yang sudah tentu dalam masyarakat itu harus ada peraturan yang ahrus dipatuhi dan dijalankan. Tiap-tiap anggota keluarga harus patuh kepada peraturan-peraturan yang berlaku dalam keluarga itu. Dengan demikian, orang tua sebagai kepala keluarga dan dalam kekeluargaannya mempunyai kewajiban terhadap anggota keluarganya. Kewibawaan orang tua itu bertujuan untuk pemeliharaan dan keselamatan keluarga itu.
•    Kewibawaan guru atau pendidik lainnya
a.    kewibawaan pendidikan
Guru atau pendidik telah diserahi sebagian dari tugas orang rua untuk mendidik anak-anak, selain itu, guru atau pendidik juga menerima sebagian tugas dari pemerintah yang mengangkat mereka.
b.    kewibawaan memerintah
Selain memiliki kewibawaan pendidikan, guru atau pendidik juga mempunyai kewibawaan memerintah. Mereka telah diberi kekuasaan oleh pemerintah atau instansi yang mengangkat mereka. Kekuasaan tersebut meliputi pimpinan kelas, disanalah anak-anak telah diserahkan kepadanya


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Gezag merupakan syarat yang harus ada pada pendidik dan karena pendidikan untuk membawa anak didik kepada kekedewasaan, maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan.
Langeveld  menyatakan bahwa pendidikan yang sungguh-sungguh baru dapat diberikan setelah anak itu mengenal akan kewibawaan, kira-kira anak berumur tiga tahun.
Sebelum umur tiga tahun anak seperti diberi semacam paksaan atau dressuur, tetapi paksaan yang diberikan kepada anak yang masih sangat kecil itu ditujukan kepada kekedewasaan anak, maka paksaan yang diberikan kepada anak yang  masih kecil sekali itu disebut pendidikan pendahuluan, bukan dressuur.
Kiat-kiat menjaga kewibawaan :
1.    Bersedia memberi alasan,
2.    Bersikap you attitude,
3.    Bersikap sabar,
4.    Bersikap memberi kebebasan.

B.    SARAN
Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi kawan-kawan semua bisa memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan kami mohon maaf karena kami hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan yang terbatas.


DAFTAR PUSTAKA
Drs.M. Ngalim Purwanto, MP, 2003. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Drs.H. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, 1991. Ilmu Pendidikan, Jakarta, PT. Rineka Cipta
Drs. Indra Kusuma Daien, 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar